Customer Service: Case I
Sebenarnya udah males sih nulis topik ini. Abis udah lama dan gue males mengingat-ingat lagi. Tapi ya udah, deh, daripada penasaran Case II-nya udah diposting.
Jadi ceritanya, kalau yang ini mengenai rumah gue yang baru selesai dibangun dan masih dalam masa komplain 100 hari.
Setelah akad kredit tgl. 20 April 2005, gue ke kantor pemasarannya untuk serah terima kunci. Terus petugas lapangan minta fotocopy KTP gue untuk mengurus pemasangan PLN di rumah. Gue pikir itu bakal beres tanpa perlu prosedur lainnya.
Beberapa hari kemudian gue membuat daftar hal apa saja yang akan gue komplain dan minta mereka perbaiki. Daftar itu gue fax ke sales staff yang handle account gue. Dari dia lalu daftar dioper ke petugas lapangan.
Pada list itu, gue buatkan dua kolom, yaitu kolom tanggal penyelesaian pekerjaan dan kolom tanda cek. Lalu ada kolom tandatangan petugas sebagai bukti daftar permintaan gue sudah mereka terima.
Sampai sekarang, gue tidak di-fax balik sebagai bukti tanda terima.
Selama 1 bulan, gue menunggu-nunggu kabar dari mereka, maksudnya bagaimanakah perkembangan pekerjaan yang gue minta. Sedangkan setiap gue cek ke rumah setiap kali, tidak ada perubahan yang berarti.
Tgl. 24 Mei 2005 gue SMS sales staff untuk telpon dan mengabari gue. Tapi mereka baru telpon ke kantor 3 hari sesudahnya. Itu pun gue sedang tidak di tempat dan mereka tidak menelepon kembali.
Beberapa hari kemudian, kantor pemasaran developer telpon gue lagi. Minta gue datang ke sana untuk menandatangani berkas pengajuan ke PLN. Lhooooo…..gue bingung, bukannya waktu itu katanya akan diurus? Lalu gue tanya, "Mbak, jadi yang bulan April itu bukan pengajuan? Kenapa saya baru diberitahu sekarang? Coba, sudah berapa lama ini. Saya tunggu-tunggu kabar dari kalian. Tapi hasilnya begini!"
Staf: Iya bu, karena April lalu kita belum dapat berkas dari PLN.
Setelah beberapa lama gue ngomel2, dia oper teleponnya ke petugas lapangan. Gue ngomel-ngomel lagi. Tidak cuma mengenai PLN tapi juga pekerjaan lainnya, gue bilang itu masih banyak yang belum berubah. Dia tanya apa aja yang belum. Gue udah hampir jawab, tapi langsung gue balikin ke dia, "Wah, pak, tugas Bapak dong yang cek berdasarkan daftar yang saya kirim!!!!! Setelah pekerjaan Bapak beres, baru saya bisa kasih tau apalagi yang kurang. Tolong dong pak…..Pekerjaan saya sudah banyak, jangan ditambah lagi!!!!"
Akhirnya gue janji akan datang ke sana tgl. 5 Juni 2005 untuk tandatangan berkas dan gue minta petugas lapangannya untuk hadir mengecek rumah.
5 Juni 2005, gue datang ke sana. Gue udah cemberut deh, muka gak manis lagi. Gue tanya mana petugasnya, mana berkas yang perlu gue tandatangan, gue mau buru-buru. Eh, disuruh nunggu, pake lama lagi. Begitu petugas datang, dia bilang, " Sudah saya urus kok bu, sabtu kemarin sudah saya kasih formulirnya. Soalnya takut ibu sibuk dan tidak bisa datang."
Gue bingung, itu kok bisa tanpa tanda tangan gue? Kenapa tidak dari dulu dulu aja. Dasar!!!!. Terus gue bilang, " Kalau saya bilang saya datang, ya saya datang! Ya udah pak, sekarang kita lihat rumahnya".
Lalu gue tunjukin semuanya yang gue minta perbaiki. Dia bilang ini memang sedang banyak pembangunan. Gue bilang, walaupun pekerjaan dia banyak dia kan punya skedul proyek, sama kaya’ gue punya kerjaan ada deadlinenya.
Dia bilang sih PLN akan dipasang dalam waktu 2 minggu. Yah, kita lihat aja nanti.
